Film Pendek Alak Paul Komunitas Jamuga: MENCARI KEBAHAGIAAN KE TEMPAT PALING JAUH

Film Pendek Alak Paul Komunitas Jamuga

MENCARI KEBAHAGIAAN KE TEMPAT PALING JAUH

Jika kalian pernah berpikir untuk melakukan suatu perjalanan ke tempat yang sangat jauh, demi mencari sesuatu yang dinamakan “kebahagiaan”. Apakah kalian benar-benar yakin dapat menemukannya di tempat terjauh itu? Sebuah tempat yang tidak dapat dijangkau oleh siapa pun, sehingga di sana hanya ada dirimu seorang dan kebahagiaan yang amat kalian dambakan.

Pertanyaan itu muncul di kepala saya ketika selesai menonton film pendek berjudul Alak Paul yang disutradarai oleh Ari Kpin. Saya memikirkan dan teringat beberapa cerita yang menggunakan frasa dengan makna yang sama dengan “tempat yang jauh” di dalam ceritanya. Dua di antaranya ada film animasi Cinderella yang digarap oleh Disney dan seri anime Boku dake ga Inai Machi atau jika diterjemahkan menjadi Kota Tanpa Adanya Diriku yang diadaptasi dari manga berjudul sama karya Kei Sanbe. Kemiripan penggunaan frasa “tempat yang jauh” cukup menarik perhatian saya untuk membahasnya. Sebelum itu mari kita bahas dulu seperti apa film Alak Paul.

Dalam film Alak Paul, diceritakan terdapat tokoh Euis yang kabur dari perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Orang tua Euis memaksa ia untuk menikahi seorang kakek tua bernama Juragan Jarot yang dikenal kaya raya, dengan alasan untuk memperbaiki kehidupan mereka, khususnya untuk kebahagiaan Euis. Namun, Euis menolak dan kabur bersama Kartadji, kekasihnya, menuju ke Alak Paul dengan harapan dapat hidup berbahagia di sana. Alak Paul itu sendiri merupakan peribahasa atau paribasa dari bahasa Sunda untuk menggambarkan suatu tempat yang sangat jauh dan sulit dijangkau oleh siapapun.

Film Alak Paul ini merupakan bentuk ekranisasi dari cerpen yang sebelumnya dimuat dalam buku Parbung Lalakon - Kumpulan Carita tina Paribasa karya Ari Kpin, yang juga berperan sebagai sutradara, kameramen, editor, dan pengalih bahasa ke bahasa Indonesia dalam penggarapan film ini. Ari Kpin, yang memiliki nama lengkap Yari Jomantra adalah seorang seniman berkebangsaan Garut, Jawa Barat. Sejak SMP ia telah menekuni musik, kemudian berkembang setelah duduk di Jurusan Sendratasik Program Seni Musik IKIP Bandung (kini UPI). Persentuhannya dengan sastra membuat ia intens menggeluti bidang musikalisasi puisi. Sudah 11 album dibuat dari karya-karya musikalisasi puisi serta dijadikan sumber dan media pembelajaran di berbagai sekolah di seluruh Indonesia. Untuk bidang ini juga, Ari telah menghasilkan buku Musikalisasi Puisi (Tuntunan dan Pembelajarannya), Hikayat Publishing, 2008, dan dijadikan referensi dan penelitian untuk skripsi, tesis, dan disertasi.

Melalui cerpen dan filmnya, ia melestarikan paribasa Sunda Alak Paul yang juga menjadi inspirasi terciptanya cerpen dan filmnya. Film pendek ini telah diunggah sejak tanggal 7 Oktober 2021 di kanal YouTube Panggung Virtual garapan Jamuga Cinema. Jamuga merupakan komunitas seni yang didirikan pada tahun 2020 dan diketuai oleh Ari Kpin. Komunitas ini berkecimpung dalam bidang kesenian seperti puisi, musikalisasi puisi, teater, seni rupa, juga seni bela diri.

Proses alih wahana dari cerpen Alak Paul ke dalam film ini dapat dikatakan menarik jika dihubungkan dengan proses pemilihan latar tempat dan penokohan. Karena berlatar waktu di masa lalu, tempat yang dipilih dirasa sangat cocok dengan pemandangannya dengan tidak terlihat unsur-unsur perkotaan yang ada di zaman sekarang. Hal ini juga terlihat dari para pemeran yang menggunakan pakain khas Sunda, sehingga mencerminkan latar waktu dari masa lalu. Penokohan dan pemilihan aktor yang ditunjuk langsung oleh sutradara menjadi salah satu bentuk improvisasi yang efektif untuk memberikan kesan natural dalam pembawaan masing-masing perannya. Apalagi Ari Kpin menjelaskan bahwa naskah yang dipakai berbeda saat pelaksanaan shooting dan membebaskan para tokoh untuk berdialog sesuka mereka sesuai dengan peran yang mereka perankan.

Dari segi sinematografi, film ini memiliki kualitas yang standar. Hal ini bisa dimaklumi karena tim Jamuga Cinema hanya menggunakan kamera gawai dalam proses pembuatan film pendek Alak Paul ini. Kualitas suara cukup kurang, tetapi masih dapat terbantu oleh takarir yang terdapat dalam film. Editing dalam film terbilang cukup baik karena masih mampu menjaga jalan cerita. Tujuan Jamuga menggunakan alat-alat sederhana tersebut untuk mendidik masyarakat bahwa untuk berkreativitas tidak harus selalu bergantung pada alat mewah dan biaya mahal.

Abah menjelaskan arti Alak Paul kepada Asih.

Tiga butir niat yang ditekankan oleh Jamuga ketika memprodukdi film tersebut ialah untuk membudayakan kembali paribasa Sunda yang sudah dilupakan, mengangkat potensi wilayah masyarakat lokal, dan mengenalkan kembali paribasa ke masyarakat luas. Jamuga saya rasa sudah dapat dikatakan berhasil memenuhi tiga hal tersebut. Apalagi paribasa Alak Paul ini sudah jarang terdengar di percakapan sehari-hari, ketika ingin mengungkapkan suatu tempat yang jauh. Ketika seseorang ditanya hendak pergi ke mana dan ia sulit menjabarkan lokasi tersebut, biasanya ia akan menjawab ke Arab, ke Hongkong, dan jawaban sejenisnya. Dalam salah satu petikan lirik lagu Chrisye yang berjudul Untukku, terdapat kalimat Walau ke ujung dunia pasti akan kunanti. “Ujung dunia” pada kutipan tersebut juga menjadi salah satu pilihan frasa untuk menggambarkan sesuatu yang jauh.

Lalu, apa hubungannya Alak Paul dengan dua judul film yang disebutkan di paragraf dua? Pertama, film Cinderella dibuka dengan kalimat “Pada suatu hari di tempat yang jauh, berdiri sebuah kerajaan kecil”. Kalimat tersebut menceritakan suatu kerajaan di mana Cinderella tinggal atau hidup. Sebagaimana kita ketahui, Cinderella memang memiliki kisah akhir yang bahagia. Meskipun demikian, sekalipun sejak kecil ia sudah tinggal di “tempat yang jauh”, di mana kita tak tahu pasti di mana tempat tersebut. Untuk mencapai kebahagiaannya, Cinderella tetap harus melalui berbagai penderitaan melalui keluarga tirinya. Padahal ia sudah berada di “tempat yang jauh”.

Tangkapan layar  film Cinderella (1950)

Kemudian pada anime Boku dake ga Inai Machi, diceritakan tokoh bernama Hinazuki Kayo, berusia sepuluh tahun telah menjadi korban KDRT oleh ibunya. Ibunya menyiksa Kayo untuk melampiaskan amarahnya karena dampak tertekan setelah bercerai dengan suaminya. Kayo yang mengalami penderitaan tersebut tetap bersikap normal di sekolah, tetapi ketika mendapat tugas membuat sajak berjudul “Kota Tanpa Adanya Diriku” yang isinya merupakan keinginan terbesar Kayo untuk pergi dari tempat tinggalnya. “Ketika sudah dewasa nanti, cukup dewasa sampai aku bisa pergi ke mana pun aku mau,/ Aku ingin pergi ke negeri nan jauh./ Aku ingin ke pulau nan jauh./ Aku ingin pergi ke sebuah pulau yang tak bertuan./ Aku ingin pergi ke sebuah pulau tanpa adanya kesedihan juga penderitaan./ Pulau tanpa orang dewasa, anak-anak, teman sekelasku, guru-guruku, juga Mamaku.”, begitulah penggalan sajak yang dibuatnya. Di akhir cerita, Kayo tetap tinggal di kotanya karena bantuan teman-temannya agar ia bisa berpisah dari ibunya.  Ia tidak perlu pergi ke “tempat yang jauh” itu untuk menemukan kebahagiaan, hanya perlu lepas dari genggaman ibunya dan selanjutnya tetap tinggal di kota yang sama, bersama neneknya. Ia bahkan berbahagia setelah dewasa. Ia menikah dan memiliki seorang anak.

Tangkapan layar anime Boku dake ga Inai Machi (2016)

Akhir kata, Alak Paul atau “tempat yang jauh” menjadi hal yang terus mengganggu pikiran saya setelah menonton film tersebut. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar bagi diri saya sendiri. Apakah kebahagiaan itu berada di suatu tempat yang jauh di luar sana? Atau justru ia ada di dekat kita, tapi terdapat sesuatu yang menghalangi kita untuk mendapatkannya?

2022

Komentar