Kumpulan Puisi "Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api" karya Moon Changgil: REALITAS LAIN DIBALIK BUDAYA POPULER KOREA
Kumpulan Puisi Apa
yang Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil
REALITAS LAIN DIBALIK
BUDAYA POPULER KOREA
| Cover buku dari kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil |
Judul: Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api
Penulis: Moon Changgil
Penerjemah: Kim Young Soo dan Nenden Lilis
Aisyah
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Bulan dan tahun terbit: Desember 2021
Jumlah halaman: 116 + x
Membaca kumpulan puisi Apa yang Diharapkan Rel
Kereta Api karya Moon Changgil seolah memberikan pandangan baru–khususnya
bagi saya, terhadap Korean Wave yang telah melanda berbagai negara di
dunia sejak tahun 1990-an hingga sekarang. Pasalnya, produk budaya Korea yang masuk
dan dikenal oleh dunia begitu menyilaukan dengan berbagai produk populernya,
seperti K-Pop, film, fashion, serial-TV atau yang di Indonesia lebih dikenal
dengan istilah drama Korea, dan produk budaya populer lainnya. Budaya tersebut
begitu disukai oleh sebagian besar masyarakat, terlebih lagi di kalangan anak
muda.
Selain budaya populer yang disebutkan tadi, Korean
wave juga membawa budaya lain yang dianggap “serius”, salah satunya adalah
karya sastra. Namun, budaya ini seolah tidak diindahkan kehadirannya oleh
sebagian besar masyarakat yang mengaku menyukai dan menerima budaya Korea. Saya
sebagai salah satu orang yang dapat dikatakan telah mengabaikan fenomena Korean
wave selama ini, menjadi merasa perlu untuk mengenalinya, selain dari sisi budaya
populer. Setidaknya itu yang saya rasakan setelah membaca buku kumpulan puisi Apa
yang Diharapkan Rel Kereta Api karya Moon Changgil.
Moon Changgil sendiri merupakan seorang penyair
Korea Selatan, yang dapat dikategorikan angkatan ‘80-an di Korea dan mulai
berpartisipasi dalam penulisan puisi pada 1984 lewat kumpulan Puisi Dure
(Duresi Dongin). Pada tahun yang sama hingga 1991, Moon bergabung di Komunitas
Sastra Buruh Guro dan pada 1984–1990 di Bagian Sastra Persatuan Pemuda
Perusahaan Demokratisasi. Pada 2001, kumpulan puisinya berjudul Apa
yang Diharapkan Rel Kereta Api (Cholgili Hwimanghanun Koteun)
menerima dana kreasi karya dari Institut Pengembangan Kebudayaan dan Kesenian
Korea. Buku Apa yang Diharapkan Rel Kereta Api inilah yang kini kita bahas,
dalam versi terjemahannya yang terbit pada tahun 2021 lalu.
Buku kumpulan puisi karya penyair Moon ini memuat
58 judul puisi yang dibagi menjadi empat bagian, yang setiap bagian diberi
judul “Rangkuman 1”, “Rangkuman 2”, “Rangkuman 3”, dan “Rangkuman 4”. Pembagian
ini didasarkan pada dominasi tema yang hadir pada puisi-puisinya. Pada “Rangkuman
1”, puisi-puisi yang hadir memiliki tema nasib-nasib para pekerja kecil seperti
buruh, petani, nelayan, dan sejenisnya. “Rangkuman 2” berisi respon penyair
yang berkaitan dengan perang, khususnya perang Korea. Kemudian pada “Rangkuman
3” dan “Rangkuman 4”, puisi yang hadir lebih didominasi oleh tema
individu/personal, baik menyangkut religi, cinta, alam, dan lain-lain.
Salah satu puisi yang menurut saya mewakili
buku ini adalah puisi yang berjudul “Di Stasiun Wol-Jeong
Ri”. Berikut puisinya.
Sinar mentari di alun-alun stasiun kecil belum panas.// Punggung
pun terasa dingin.// Mungkin karena angin yang datang dari utara melewati kawat/
berduri/ atau mungkin karena darah dingin yang mengalir/dari lokomotif yang
rusak akibat peperangan.// Aku menyapu debu karat yang menumpuk tebal/ dan
mendorong pintu ruang tunggu yang berdecit.// Seketika angin menusuk dada/ seakan-akan
menanti-nanti selama ini.// Ah, apa boleh buat.// Bagaimana caranya batin
penyair Korea Selatan yang lusuh/ bisa memperbaiki sejarah perang dingin yang
bisu selama/ setengah abad?// Aku menelusuri rel kereta api yang penuh lapisan
karat/ melangkah menuju Wonsan.// Apa artinya dua lajur rel kereta api yang
diharapkan?// Apakah pembebasan rakyat atau unifikasi dua Korea/ atau reformasi
atau neoliberalisme... // Sekali lagi angin yang lebih dingin/ melintas di
belakang leher.// Aku berhenti sejenak di depan papan/ yang bertuliskan
"kereta api ingin meluncur"// Sesuatu yang hangat menghantam
kerongkonganku./ Di jalan yang tak dapat diakhiri dengan berlari/ beberapa
kuntum bunga liar mekar/ membuka matanya lebar-lebar/ memandang seorang penyair
Korea Selatan yang lusuh.
(hlm 31-32)
Puisi tersebut menggambarkan visi penyair Moon
yang mengharapkan perdamaian dan unifikasi nasional. Puisi tersebut berada di
bagian “Rangkuman 2” yang didominasi oleh tema Perang Korea. Puisi ini pula
menjadi salah satu puisi yang mengenalkan tempat-tempat di Korea. Sebagian besar
puisinya juga menyebutkan nama-nama tempat yang ada di Korea, seperti pada
puisi ini yang mengenalkan Stasiun Wol-Jeong Ri. Stasiun ini adalah stasiun
kereta api tertutup di Jalur Gyeongwon di Korea Selatan, yang ditutup dan
disebabkan oleh peristiwa Perang Korea.
Secara keseluruhan, kumpulan puisi Apa yang
Diharapkan Rel Kereta Api ini mengajak kita semua untuk lebih mengenal negara
Korea, tidak hanya dari sisi budaya populernya saja. Puisi-puisi penyair Moon ini
dapat dikatakan berhasil mengubah sudut pandang saya terhadap fenomena Korean
wave yang sedang terjadi saat ini. Sejalan dengan itu, puisi-puisi Moon
juga menjadi harapan para penyair Korea untuk mengenalkan negara Korea lebih
dalam lagi. Baik dari segi budaya, sejarah, dan realitas sosial yang ada di
negara tersebut.
Para penerjemah Kim Young Soo dan Nenden Lilis
Aisyah juga membuat buku puisi ini enak dibaca, dinikmati, juga dipahami untuk
kita sebagai pembaca dari Indonesia. Meskipun terdapat bagian-bagian dari puisi
yang sulit dimengerti, hal ini akan dibantu dengan bagian “Catatan Penutup”
yang ditulis oleh Nenden Lilis A. Catatan tersebut sangat membantu dalam
memahami puisi-puisi yang ada di buku ini.
Membaca buku ini akan membuka pengetahuan kita
tentang Korea yang tak banyak ditunjukan. Bahkan seperti yang saya sebutkan
sejak awal, hal ini dapat mengubah sudut pandang anda terhadap fenomena Demam
Korea yang terjadi di berbagai belahan dunia dan mengajak untuk lebih mengenal
lagi budaya lain, selain budaya populer di negara Korea.
(Zulfiqar Azhari Ahmad)
Komentar
Posting Komentar